4/07/2013

SMA: Kau masih merasakan aroma masa orientasi tiga tahun lalu?

"Aku ingin menjadi dokter hewan."
"Kau bertanya cita-citaku? Mungkin orang yang bekerja di sebuah laboratorium."
"Cita-cita? Apa ya? Emang kalo udah lulus SMA harus cari cita-cita?"
"Tauk deh..ngikut orang tua aja."
"Kayaknya kerja kantoran seru."
"Ngikut negara ah jadi militer-militeran atau polisi-polisian gitu biar enteng jodoh!"
"Aku nerusin bisnis orang tua. Cita-cita kan?"
"Bentar. Cita-cita? Ngawinin anak pejabat atau pengusaha tajir aja biar kayanya cepet!"
"SOSIALITA!!!!!"

Pasti. Ragu. Tidak tahu. NgikutNgawur.

Kita lucu dan menggelikan. Disaat berada di ujung sebuah jalan dan kita harus mencari jembatan menuju jalan lainnya, kita bingung mencari jembatan kemana, seperti apa, dan kemana arahnya. Kita memilih, namun buta. Kita. Para pejuang pelepas warna putih abu-abu.

Kau masih merasakan aroma masa orientasi tiga tahun lalu? Kau masih ingat wajah para senior yang menghukummu hanya karena salah membawa "roti Rudy Hadisuwarno"? Kau masih ingat senyum simpulmu di depan kaca dan berkata, "Aku sekarang bukan anak kecil lagi!", saat hari pertama mengenakan seragam putih abu-abu? Buka lagi memorimu dan carilah kenangan itu.

SMA. Di sana kita menebar mimpi di semua sudut sekolah. Mencari teman untuk tiga tahun dan selamanya (jika kau bisa). Mencari ilmu untuk masa depan. Mencari cinta untuk menjadi alasan mengapa kau pergi sekolah. Meneruskan kenakalan masa SMP. Mencari guru yang akan mengenalmu dengan sebuah ciri khas.  Mencari sahabat untuk lebih dari selamanya. Kau akan merasakan keseruan dalam hidup saat masa ini. Berjalan membusungkan dada sambil menekankan pada diri sendiri bahwa kau sudah-dapat-dikatakan-dewasa.

Bangku hitam panjang menjadi saksi bisu saat pertamakali berhasil memegang punggung tangan pacar. Pagar sekolah mungkin akan merindukanmu untuk diloncati saat membolos. Ibu-ibu kantin tak kalah rindu padamu, iya, saat kau membayar dua gorengan padahal lima yang kau telan. Musuh bebuyutan kita, guru BK, akan mengenang kenakalan kita dengan buku "hitam" yang sudah usang.

Tiga tahun kita berjuang. Berjuang untuk mencetak mimpi. Berjuang untuk bertahan "di hutan rimba SMA". Hukum rimba berlaku di sana, dia yang kuat maka dialah yang menang dan bertahan. Semakin kau lemah, maka semakin buruk hari-harimu selama SMA.

Kau akan mengerti seperti apa teman dan sahabat yang sebenarnya pada masa SMA. Kau akan tau mana yang pantas kau jadikan kawan atau lawan. Kau akan tau rasanya melihat mantan pacarmu duduk berdua bersama temanmu sendiri di sudut kantin.

Jadi kau sudah siap "menggantung seragammu"? Menjadi seorang dewasa yang sesungguhnya? Menambah kata "maha" di depan "siswa"? Mengganti kartu pelajar dengan kartu tanda mahasiswa? Menutup album kenangan masa SMA? Tutup saja album itu, tapi, tak perlu kau kunci karena sepuluh tahun dari sekarang kau akan merindukan teman-temanmu.

Perjalanan sudah berakhir, di SMA. Kau akan berjalan sendiri. Menuai mimpi yang dulu kau tebarkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar