6/20/2013

SURAT: Apa Mungkin Kau yang Mengingkari Isi Surat Itu?

Surabaya, 19 Maret 2012

Untukmu diantara barisan nadi-nadi itu,

Sudah berapa bulan (tahun mungkin?) kita tak bertemu? Sudah berapa lama kita saling tidak mengirim pesan pendek? Apa kau akan mencoba mencariku jika aku tak mencarimu terlebih dahulu? Ah sahabat..
Aku masih ingat 5 tahun lalu, malam sebelum kepindahanku ke kota ini, kau memberiku sebuah kado dan disitu terselip sebuah surat. Yang sangat aku ingat dari isi surat itu adalah "Jangan lupakan aku ya dan jangan sombong!". Aku tahu surat itu tulus dari hatimu. Sampai sekarang aku tak melupakanmu dan aku tidak sombong. Aku masih mencari tahu kabarmu, tanpa sepengetahuanmu. Apa mungkin kau yang mengingkari isi surat yang kau tulis sendiri?

Kedekatan kita tak seperti dulu lagi. Aku akui itu. Kau selalu bilang, "kamu pasti sibuk sekali". Sesibuk apapun aku, tak pernah terpikirkan dalam benakku untuk "menelantarkanmu", sahabat yang sudah bertahun-tahun hidup dalam aliran darahku. Namun, semuanya telah berubah, entah itu kau atau aku yang berubah. Kita bertemu seperti beberapa tahun lalu, tapi gesture tubuh kita seperti orang pertamakali kenal. Aneh. Tawa kita tidak lepas, ada kepalsuan yang tersembunyi. Percakapan yang seolah-olah "aku masih menganggapku ada" sangat menyakitkan. Aku mulai percaya bahwa segala sesuatu bisa berubah karena jarak dan waktu. Aku tidak bisa memperpendek jarak puluhan kilometer dan aku juga tidak bisa menghentikan waktu. Takdir Tuhan.

Semakin berubah 180 derajat saat kau tersandung. Mungkin lebih pantasnya adalah terperosok. Kau terperosok ke dalam lubang yang perlahan-lahan kau gali sendiri. Kau menutup rapat. Keluargamu berbohong sana sini. Saat itu aku merasa buta. Aku tidak tahu apa-apa dan aku hanya meraba. Mungkin tidak bisa aku tuliskan di sini karena sama saja aku membuka luka lamamu dan keluargamu. Aku pun tidak ingin mengingat kembali detail peristiwa itu.

Kita dipertemukan kembali tidak dalam dunia nyata, namun, melalui sebuah social media yang tak beremosi. Aku tidak bisa tahu saat kau sedang berbagi kalimat marah, mungkin saat itu juga kau sedang di kamar mandi. Bisa jadi pula, saat kau membagi kalimat sedih, namun menyambi tontonan serial komedi di televisi. Kita saling berbalas deretan kalimat yang terkesan hanya sebuah "label". Tidak ada lagi keseruan seperti dulu. Sepertinya perlahan-lahan semua akan benar-benar menghilang.

Sejak saat ini aku mulai meragukan makna "sahabat", namun, aku tidak memukul rata semuanya menjadi teman saja. Aku percaya pada indahnya persahabatan yang aku tidak percaya hanyalah sahabat untuk selamanya. Aku tidak pernah mendefinisikan sahabat dan cinta. Dua hal itu sama seperti saat seseorang bertanya, "Hantu itu apa?", tidak akan ada jawaban yang pasti.

Sahabat tidak seperti kekasih. Sahabat bukanlah jodoh. Kita tidak bisa menentukan siapa sahabat kita. Tidak pernah ada kata "putus" dalam persahabatan. Mungkin jika kau merasa tidak ada kecocokan dengan kekasihmu kau akan mengatakan cukup sampai disini dan masalah selesai. Kalian kembali dengan hidup kalian masing-masing. Itu tidak akan terjadi pada persahabatan. Apa kau pernah menemukan hal itu dalam persahabatan? Apakah kau pernah mendengar "mantan sahabat"? Sahabat mengalir alami, dia tidak membutuhkan pendekatan.

Aku juga sudah tidak banyak berharap pada persahabatan. Kau memberiku pelajaran bagaimana menjalani sebuah persahabatan yang saling membahagiakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar