6/25/2013

The Cold Latte: Cinta itu Seperti Latte

Aku terseok-seok. Kau bisa mendengar suara kakiku yang menyeret? Jari kakiku mulai berdarah. Tercium bau anyir. Kuku-kukuku sedikit demi sedikit mulai tergerus. Aku hanya bisa melihat, namun tak bisa ku rasakan. Mati rasa. Sedikit perih, tidak terlalu. Sakit, jika bisa. 

Kakiku semakin cepat menyeret. Lihat! Bukan hanya kukuku yang habis, kulit jari-jariku mengelupas. Seperti air terjun, cairan kental merah semakin deras dan berceceran dimana-dimana. Semakin cepat.....cepat.....cepat.....cepat.....cepat.....................dan..............kau yang menyeretku. Kau berhenti di ujung jalan setapak yang curam. Tubuhku tergeletak begitu saja. Nafasku hitungan satu-dua. Gaun putihku kotor oleh tanah dan darah, sebagian terkoyak dimana-mana. Rambutku terurai tak karuan, Aku tidak bisa jelas melihatmu. Badanmu membungkuk naik turun dan tanganmu mengayu-ayunkan sesuatu ke tanah. Kau seperti.................... sebentar! Menggali tanah? Untuk apa? Kau akan menguburku hidup-hidup? Tidak! Aku masih hidup. Nadiku masih berdenyut. Otakku masih berpikir. Jantungku masih berdetak. Darahku masih mengalir. Goncangkan saja tubuhku dan aku pasti bangun! 

"Cukup dalam....." Kau setengah bergumam dan meletakkan cangkul berkarat di tanah. Aku bisa menebak kau berjalan ke arahku dan menyeretku lagi. Kali ini langkahmu semakin cepat seperti anak kecil yang menerima balon gratis. Aku mencoba mencari penyesalan melalui genggaman erat tanganmu, namun, tidak ku temukan. Tanganmu dingin sedingin langkahmu.

Kau berhenti setengah meter dari tanah yang kau gali dan melepaskan genggaman kokohmu di tanganku. Aku beringsut setengah membungkuk mencoba bangun dan menahan tubuhku dengan kedua tangan. Belum sempat aku berkata, kau mencuri start......

"Kabur saja tidak apa-apa. Aku tidak akan mencegahmu. Lubang itu akan aku tutup kembali sebelum menjadi tempat tinggal para tikus." Kau berkata membelakangiku dan tetap dengan nada dingin.

"Kau pantas menguburku hidup-hidup! Balasanmu setimpal dengan perlakuanku dimasa lalu!" Aku setengah berteriak menaikkan suaraku beberapa oktaf.

"Mungkin aku telah menutup segala penjuru pintu maaf untukmu, tetapi, aku tidak mampu menutup pintu perasaanku padamu. Kau candu, seburuk apapun perlakuanmu bagiku. Sepertinya aku tidak bisa menyalahkanmu mengapa kau memilih laki-laki itu, sebut saja aku tidak mengisi kekuranganmu dan kelebihanmu sepenuhnya belum aku miliki. Ada kalanya aku harus melepaskan untuk belajar mempertahankan dan aku telah berhasil melepaskanmu, namun, tidak dengan mempertahankanmu."

Dia berkata panjang lebar seperti tidak memberiku kesempatan berbicara. Aku sepenuhnya bersalah dan tak perlu memberi pembenaran apapun. Ada jeda diantara kita berdua seperti ingin menyelami pikiran masing-masing. Aku memandang tanah yang ia gali. Tidak hanya aku yang ingin dia kubur, tetapi, kenangan kita berdua. Akal sehatmu tidak akan bekerja dengan baik saat kau mengingat momen buruk dalam hidup. Kepalamu akan terasa berat, tubuhmu dingin, dan aliran darahmu terasa berhenti sejenak. Seluruh tubuhmu secara otomatis akan memberi respon tidak mengenakkan. 

Angin menerpa wajahku dan menggelitik tengkuk. Dingin. Kau tetap bergeming di posisimu memandang jurang yang menganga lebar dibawah bukit tempat kita berdiri. Bukit dengan jalan setapak yang curam sekian derajat. Kau seperti telah mengenal tempat ini sebelumnya. Gesture tubuhmu memperlihatkan kenyamanan. 

"Harusnya kau tak perlu susah payah menggali tanah itu untuk menguburku. Jurang ini cukup dalam dan rasanya lebih setimpal. Kau mendorongku tanpa tedeng aling-aling lalu aku akan mati dalam sekejap. Persis seperti yang aku lakukan padamu, tepatnya hatimu. Tanpa tanda apapun aku meninggalkanmu dan menghancurkan seluruh dinding hatimu. Kedudukan kita akan satu sama." Aku berseloroh tanpa berpikir.

Kau tidak menjawab dan berjalan ke arah kuburanku. Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, namun, kau menimbun kembali lubang itu dengan tanah. Sesaat aku tersentak melihat bulir air matamu jatuh melebur bersama tanah. 

"Kau menangis? Untuk apa dan untuk siapa?"

Tetap tanpa memandangku kau menjawab, "Aku menangis untuk diriku sendiri. Aku gagal membahagiakanmu dengan caraku. Sekarang perasaanmu benar-benar tak tersisa. Maaf untuk kebiadabanku hari ini. Aku hanya melakukan yang sepantasnya aku berikan kepada orang yang telah meruntuhkan segala mimpiku. Aku tidak peduli kau akan mati hari ini atau menumbuk perasaan lebih untuk laki-laki itu. Sebenarnya aku berharap apa yang kau lakukan dan rasakan hanya terjadi di bawah alam sadarmu, sehingga kau tak pernah benar menyadari."

Aku berdiri tertatih menahan perih di kaki dan memandang jurang di bawah. Kau benar, apa yang aku rasakan dan lakukan sebenarnya berada di bawah alam sadarku, sehingga aku tidak menyadari perasaan ini masih hidup dan tumbuh untukmu. 

Dulu aku terbuai sesaat dengan laki-laki itu. Sampai suatu hari aku menyadari bahwa aku tidak menemukan tujuan dengannya. Tujuan hidupku adalah dirimu, hatimu, dan jiwamu. Selalu ada kata terlambat untuk mencintai, aku benar-benar terlambat merasakan cintamu yang hangat dan perlahan mendingin untukku.

17:00, di sudut coffeeshop........
"Hari ini juga aku harus menyerahkan naskah ini kepada editor." Wanita itu bergumam kepada dirinya sendiri hingga nyaris tak terdengar.

Sore ini dia terlihat sangat segar dengan celana high waist denim biru langit yang dipadukan dengan chiffon blouse berwarna peach, moodnya sedang bagus mengenakan knitted shawl beraksen bola-bola kecil berbulu dipinggirnya. Mata madunya memandang lurus layar notebook membaca ulang cerita fiksi sebelum ia serahkan kepada editor. Cerita itu tidak sepenuhnya fiksi, karena, tokoh yang ia tuliskan memang ada dalam hidupnya dan dia salah satunya. Jalan ceritanya pun pernah ia alami.

Ketika kau kehilangan orang yang kau cintai, maka, kau akan mengenal dua kata yaitu terlambat dan dingin. Hatimu terlambat menahannya untuk tetap tinggal, lalu perasaannya yang dulu hangat kepadamu perlahan akan mendingin. 

Wanita itu menyesap secangkir latte yang sudah dingin, lagi-lagi ia terlambat meminumnya. Ia meninggalkan selembar uang lima puluh ribu di meja dan segera membereskan notebooknya lalu  bergegas pergi meinggalkan coffeeshop. Membiarkan latte itu semakin dingin. 

5/09/2013

Tiga

Jangan menyalahkan cinta, ia tak pernah direncanakan dan tak pernah 
merusak dirinya sendiri. 

Baca! Baca tulisan ini, karena aku enggan mengatakannya. 
Kau binatang? Kau pahlawan bertopeng? Atau kau adalah kerak-kerak ciptaan Tuhan? Permainanmu sangat anggun. Pelan dan mematikan. Permulaan yang indah dengan senyuman terbaik dari bibirmu. Siapa yang tidak akan luluh? Medusa pun tidak akan menatap matamu agar kau tak membatu. Dahsyat, pria pintar! Kau membuat sebuah closed drama, tidak ada penonton dan panggung. Sebagai pemeran utama kau sangat lihai dan berpengalaman. Jadi, bukan sesuatu yang asing lagi bagimu? Ah, ini lebih dahsyat lagi pria lebih pintar!

Baca! Baca tulisan ini, karena aku enggan mengatakannya.
Kau wanita itu? Kau figuran atau tokoh jahat pendukung pemeran utama? Kau menggerus apa? Hasrat? Hati? Harta? Dengar, hidup ini akan sejalan dengan apa yang kau jalani, dia akan memutar haluan saat kau berputar. Dia akan menghantammu jika kau berbalik mengkhianati. Impas bukan? Tidak ada yang tidak berlaku untuk hukum karma, alam sudah menentukannya. Kau hanya menunggu bagianmu. Cantik.

Baca! Baca tulisan ini, karena aku enggan mengatakannya.
Hai, kau di sana wanita kurang beruntung? Lucu. Bodoh. Tangisi saja binatang itu dan kau pikir tangismu akan menyihir dia menjadi malaikat putih, suci, bersih. Awam berkata, jangan tangisi orang yang tak pantas kau tangisi. Aku berkata, mati saja. Iya, mati. Kau hidup dengan bergumul masa lalu yang perlahan-lahan menggerogoti akal sehatmu. Sedikit demi sedikit kau akan habis, kalah dengan kenangan. Memalukan.

4/14/2013

Maskara Jantan



Harusnya aku berada di sana dengan tumpukan gulungan kain dan berbagai pola. Mengenakan baju-baju lucu dan bersolek sesuka ria. Maskara hitam lentik, gincu merah marun, dan syal berbulu domba yang halus. Duduk manis di barisan penonton Milan Fashion Week sebagai tamu terhormat. Merancang gaun mahal untuk artis-artis ternama di dunia. Mungkin juga aku akan menjadi seorang psikolog hebat. Menjadi tempat konsultasi orang-orang dengan masalah rumit mereka. Namun, mimpi tinggallah mimpi. Fakta tetaplah tercetak jelas.

Namaku Prima Adrinata. Umurku 27 tahun. Aku terlahir di keluarga normal seperti keluarga-keluarga lainnya. Orang tuaku adalah hasil dari perjodohan nenek. Tak perlu heran jika kebahagiaan mereka berbeda. Aku anak ke empat dari lima bersaudara. Seluruh saudaraku telah menjadi “orang”. Dua kakak laki-lakiku adalah angkatan laut. Saat ini mereka berada di luar pulau bersama keluarga masing-masing. Aku tinggal di kota metropolitan ini dengan kedua orang tuaku.

Pendidikan terakhirku sarjana psikologi universitas ternama. Banyak orang berkata bahwa aku pintar dan tampan. Jangan heran jika aku mengirim CV ke perusahaan manapun, aku pasti lolos sempurna.

Dunia pergaulanku sempit, bahkan sangat sempit. Bahasa jaman sekarangnya kuper, kurang pergaulan. Kalian tidak akan pernah menemukanku di tempat-tempat hang out, seperti cafe atau coffeshop. Aku benci berada dikeramaian. Aku selalu berkata pada diriku bahwa aku tidak normal. Berbeda dari mereka. Kodratku yang hanya angin lalu semakin mengucilkanku.

Aku aneh. Iya, menurutku dan menurut semua orang, termasuk keluarga. Entahlah aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Kau berpikir aku seorang sarjana pengangguran yang sedang setengah  gila? Ada pula yang berpikir bahwa aku ini gila.

Semuanya berawal semenjak aku masih putih abu-abu. Dulu aku adalah alumnus sekolah menengah atas yang terkenal dengan kaum borjuisnya. Pelataran parkir sekolahku lebih mirip showroom mobil mewah. Mirisnya setiap hari aku hanya naik angkutan umum. Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Suatu malam aku pernah bertanya hal ini pada ayahku, jawaban beliau, “Sudahlah nak jangan pikirkan mereka. Gemerlap hidup mewah tak menjamin kebahagiaan hidupmu.” Kesederhanaan hidupku juga tak menjamin kebahagiaan. Ironis. Masa SMA adalah masa terberat dan menjadi beban pikiranku. Aku semakin tertutup dan pemalu. Sahabat atau teman curhat tak pernah ku punya. Diam-diam dalam hati aku membenci kaum-kaum yang tinggi itu. Aku harus tetap bertahan dengan “keangkuhan” hidup mereka. Ironis.

Keadaan semakin parah ketika aku mulai masuk perguruan tinggi. Aku merasa memiliki “aku” yang lain. Sisi lain diriku mulai muncul perlahan-lahan. Ada getaran aneh saat aku melihat sesama jenisku yang tampan. Ada perasaan “ingin mencoba” ketika alat-alat make up saudara perempuanku tergeletak acak-acakan di meja riasnya. Tanpa sepengetahuan keluarga diam-diam aku selalu menggambar design gaun perempuan. Semuanya aku sembunyikan dari lingkungan. Tak ada yang tahu satu orang pun.

Hingga suatu malam aku menguji nyaliku dan menceritakan semuanya pada ayah. Aku juga mengutarakan bahwa aku ingin menjadi designer gaun perempuan seperti mendiang Alexander McQueen. Dua puluh menit setelah aku bercerita, tangan tua ayah menampar keras pipiku. Suara beratnya berteriak keras di gelapnya malam,“KAU INGIN MEMPERMALUKAN KELUARGAMU? KAU ITU LAKI-LAKI! BERLAKULAH SESUAI KODRAT YANG TUHAN BERIKAN PADAMU!”

Sayup-sayup aku mendengar ibuku menangis. Mungkin beliau kecewa dan terpukul batinnya menerima kenyataan bahwa anak laki-lakinya bukanlah pejantan tangguh. Terhitung sejak malam ini hubunganku dan keluarga memburuk. Kondisi psikisku juga semakin kacau. Aku sering mengamuk dan terkadang memukuli ayah. Bertahun-tahun aku terkurung dalam jiwa yang “bukan aku”. Kebahagiaan kedua orang tuaku mulai terusik. Ibuku lebih sering menangis dan ayah hanya diam, namun, aku tahu dalam dirinya beliau ingin marah. Mereka juga berusaha menyembunyikan masalah ini kepada keluarga besar masing-masing. Saudara-saudaraku tahu akan hal ini, namun, mereka diam. Pura-pura tidak tahu mungkin lebih baik.

Keluarga kata orang-orang pintar adalah tempat paling pertama yang akan kau cari saat kau kehilangan arah. Nol besar untukku. Mereka menekanku. Secangkir teh hangat yang menemaniku setiap pagi, bukan teh hangat untuk manusia normal lainnya, namun ini khusus untukku. Obat penenang, bius, pemabuk atau apalah namanya selalu membuatku tenang, namun jiwaku berontak. Setiap hari aku hanya di rumah, berbaring di tempat tidur, atau membaca buku. Mimpiku telah berhamburan ke langit. Sebuah balon terbang yang telah terbang tinggi tidak akan pernah bisa kembali ke tanah lagi.

Pernah aku mencoba bekerja kantoran, tapi tak pernah bertahan lama. Satu-dua minggu pertama aku menjadi orang yang menyenangkan di tempatku bekerja. Menginjak dua bulan aku tidak betah berlama-lama berada di keramaian. Teman-teman sekantorku mulai menjauh satu persatu. Sedikit demi sedikit mereka menganggapku aneh. Aku sudah mendengar mereka menggunjingkanku. Devy, seorang sekretaris bos yang terkenal tukang gosip paling sering menjadikanku bahan gosipnya dengan perempuan-perempuan lain di kantor.

Gue pernah ngeliat si Prima lagi gambar gaun cewek, gambarnya sih bagus tapi kan ga cowok  banget. Dan elo tau di folder fotonya dia banyak foto cowok-cowok ganteng.  Mulai dari situ gue yakin kalo dia HO-MO!” Dengan gaya centilnya yang khas memilin-miling ujung rambut.  Aku tidak sengaja mendengar ketika berjalan menuju pantry dan para perempuan itu sedang berkumpul di kubikel Devy. Menjijikkan. Penekanan kata homo yang memang di sengaja saat aku lewat di depan mereka. Satu minggu kemudian aku resign dan kembali pada aktivitas lamaku.

Siang itu aku duduk-duduk di ayunan taman belakang rumah. Dua keluarga besar ayah ibuku sedang berkumpul di ruang tamu. Entah mereka sedang mengadakan pertemuan apa aku tak ingin tahu. Sepertinya mereka tahu apa yang terjadi, tetapi mereka memilih menganggap tidak terjadi apa-apa. Seluruh saudaraku juga datang, aku yakin mereka sepakat untuk pura-pura tidak peka.

“Prima, bengong aja nih? Gabung yuk di dalem, semuanya lagi pada ngumpul tapi kamu aja di sini. Bengongin apaan sih?” Helena, anak tanteku yang dulu semasa kecil sering bermain balap sepeda denganku. Sedetik aku hanya menoleh dan tersenyum. Malas. Aku malas menanggapi orang yang sok care. Helena menatapku tak berkedip, mungkin dia menunggu jawabanku.

“Di sini ternyata Prima. Ayahmu menunggu di dalam, sepertinya ada yang ingin beliau bicarakan.” Belum sempat aku menanggapi Helena, Tante Ria datang menyuruhku bergabung dengan para tamu. Ayah ingin membicarakan sesuatu denganku. Tentang apa? Entahlah.

Tiga tahun kemudian...

Saat kau membaca bagian ini, aku sedang berada di backstage Paris Fashion Week Spring 2013 Collections bersama 30 model dari berbagai negara. Tiga tahun belakangan aku sibuk dengan dunia designer dan butik yang sudah setahun berjalan. Kau bingung mengapa aku bisa seperti ini?
Saat pertemuan keluarga tiga tahun lalu ayah membahas masalahku di depan semua keluarga. Pada awalnya aku marah dan malu. Beberapa om dan tanteku terkejut karena setahu mereka aku normal-normal saja seperti kedua kakak laki-lakiku. Ayah menyetujui cita-citaku sebagai seorang designer, namun dengan satu syarat, aku tetap harus menikah dengan seorang perempuan. Aku terima keputusan ayah dan berjanji akan memenuhi syaratnya.

Aku tidak menyangka jika pada akhirnya ayah dan ibu akan berubah pikiran. Mereka orang tua terhebat untukku. Sisi gelap hidupku seperti terhapus oleh kebaikan dan keluluhan hati mereka.

Enam bulan kemudian aku terbang ke Paris untuk sekolah mode. Paris adalah negara impianku. Sudah tiga tahun aku menetap di Paris, setiap tiga bulan sekali atau saat jadwal kosong aku sempatkan pulang ke Indonesia menjenguk ayah dan ibu. Hidupku semakin bahagia dengan kehadiran Revina, istriku tercinta.

Ayah ibu, kebahagian anakmu bermula dari sehelai kain dan kebahagiaan kalian aku jahit rapi di helai-helai mimpiku yang berpola indah.

                

4/07/2013

SMA: Kau masih merasakan aroma masa orientasi tiga tahun lalu?

"Aku ingin menjadi dokter hewan."
"Kau bertanya cita-citaku? Mungkin orang yang bekerja di sebuah laboratorium."
"Cita-cita? Apa ya? Emang kalo udah lulus SMA harus cari cita-cita?"
"Tauk deh..ngikut orang tua aja."
"Kayaknya kerja kantoran seru."
"Ngikut negara ah jadi militer-militeran atau polisi-polisian gitu biar enteng jodoh!"
"Aku nerusin bisnis orang tua. Cita-cita kan?"
"Bentar. Cita-cita? Ngawinin anak pejabat atau pengusaha tajir aja biar kayanya cepet!"
"SOSIALITA!!!!!"

Pasti. Ragu. Tidak tahu. NgikutNgawur.

Kita lucu dan menggelikan. Disaat berada di ujung sebuah jalan dan kita harus mencari jembatan menuju jalan lainnya, kita bingung mencari jembatan kemana, seperti apa, dan kemana arahnya. Kita memilih, namun buta. Kita. Para pejuang pelepas warna putih abu-abu.

Kau masih merasakan aroma masa orientasi tiga tahun lalu? Kau masih ingat wajah para senior yang menghukummu hanya karena salah membawa "roti Rudy Hadisuwarno"? Kau masih ingat senyum simpulmu di depan kaca dan berkata, "Aku sekarang bukan anak kecil lagi!", saat hari pertama mengenakan seragam putih abu-abu? Buka lagi memorimu dan carilah kenangan itu.

SMA. Di sana kita menebar mimpi di semua sudut sekolah. Mencari teman untuk tiga tahun dan selamanya (jika kau bisa). Mencari ilmu untuk masa depan. Mencari cinta untuk menjadi alasan mengapa kau pergi sekolah. Meneruskan kenakalan masa SMP. Mencari guru yang akan mengenalmu dengan sebuah ciri khas.  Mencari sahabat untuk lebih dari selamanya. Kau akan merasakan keseruan dalam hidup saat masa ini. Berjalan membusungkan dada sambil menekankan pada diri sendiri bahwa kau sudah-dapat-dikatakan-dewasa.

Bangku hitam panjang menjadi saksi bisu saat pertamakali berhasil memegang punggung tangan pacar. Pagar sekolah mungkin akan merindukanmu untuk diloncati saat membolos. Ibu-ibu kantin tak kalah rindu padamu, iya, saat kau membayar dua gorengan padahal lima yang kau telan. Musuh bebuyutan kita, guru BK, akan mengenang kenakalan kita dengan buku "hitam" yang sudah usang.

Tiga tahun kita berjuang. Berjuang untuk mencetak mimpi. Berjuang untuk bertahan "di hutan rimba SMA". Hukum rimba berlaku di sana, dia yang kuat maka dialah yang menang dan bertahan. Semakin kau lemah, maka semakin buruk hari-harimu selama SMA.

Kau akan mengerti seperti apa teman dan sahabat yang sebenarnya pada masa SMA. Kau akan tau mana yang pantas kau jadikan kawan atau lawan. Kau akan tau rasanya melihat mantan pacarmu duduk berdua bersama temanmu sendiri di sudut kantin.

Jadi kau sudah siap "menggantung seragammu"? Menjadi seorang dewasa yang sesungguhnya? Menambah kata "maha" di depan "siswa"? Mengganti kartu pelajar dengan kartu tanda mahasiswa? Menutup album kenangan masa SMA? Tutup saja album itu, tapi, tak perlu kau kunci karena sepuluh tahun dari sekarang kau akan merindukan teman-temanmu.

Perjalanan sudah berakhir, di SMA. Kau akan berjalan sendiri. Menuai mimpi yang dulu kau tebarkan. 

3/21/2012

RINDU BIRU: Apakah itu Haram?

Aku rindu sekali padamu. Ingin menatap lekat wajahmu, bersandar di pundakmu, tertawa bersamamu. Sebentar. Bolehkah aku merindu padamu? Rindu yang ku seduh dalam secangkir peluh. Kapan pun bisa ku teguk selagi hangat. Mungkin rindu ini tak akan berkesudahan. Tak akan ada ujung pangkalnya. Bisa ku katakan sebagai "Rindu Biru"? Biru, seperti langit yang tak berujung dan bertitik. Biru, menyedihkan.

Aku merindumu dan dia dua kali lebih merindukanmu. Miris. Di persimpangan rindu itu, dia telah menunggu. Meneguk rindu yang telah ke seduh. Menelan dengan sekali teguk. Tak seperti aku yang harus menyesapnya perlahan-lahan, hangat menelusup dalam tulang-tulangku, perih menindik liang hati.

Rindu padamu, rindu biru.
Rindu biru, apakah itu haram?

2/25/2012

GILA: Bersama Rohmu Aku Bersolek

Ini untukmu yang membuatku terhimpit dalam palung hatimu.

Kepalaku nyaris pecah dan tubuhku nyaris hancur, tak mampu berada dalam posisi seperti ini. Aku tidak bisa bergerak. Kakiku terpasung oleh rindu yang semakin keruh. Berpeluh asa tergantung dalam hati. Menggapai-gapai ujung cinta yang menyeretnya. 

Terseok-seok aku merangkak meraih tanganmu yang menganga lebar, ku genggam erat, namun, tak dapat ku rasakan hangat aliran darahmu. Aku menggenggam lebih erat, semakin erat, jauh lebih erat, dan kau terbang melayang melepaskan sedikit demi sedikit genggaman tangan ini, hingga hanya ujung jari kita yang bersentuhan. 
Aku hanya dapat memandangmu dari kolong langit ini. Kau menjadi pajangan langit yang terindah. Berhenti di rute surga, mencari kedamaian. 

Tak ada fisikmu disini, namun rohmu melekat dalam tubuhku. Gerakku terkontrol olehmu. Nafasku mendengungkan namamu. Bersama rohmu aku bersolek. Percantik diri ini berharap kau akan datang tiba-tiba. Mematut diri di cermin, bergaun merah marun, yang tampak adalah wajahmu. Aku semakin gila. Menghadapi dirimu telah disana, aku tak bisa.

Lekaslah kembali! Kegilaanku semakin menjadi.



2/21/2012

Surat: Bicaralah dan Jelaskan Semua Petunjuk-petunjukmu

Untukmu yang membuatku membisu,

Aku selipkan surat ini ke dalam binder kesayanganmu. Aku hanya mencari media lain untuk menjelaskannya. Lelah sudah aku untuk menebak-nebak. Semuanya telah menghancurkan hari-hariku.

Sayang, perang dunia II telah usai beberapa puluh tahun yang lalu tapi mengapa perang dingin kita tak juga usai? Tak ada pembicaraan yang mengarah pada masalah. Kita berbicara sekedarnya. Kau bertanya dan aku menjawab. Itu saja. Sekedar basa-basi agar "es" itu sedikit mencair. Kau senang dengan semua ini, sayang? Kau seperti membangun gunung es yang semakin tinggi dan kokoh. Sulit untuk dipecahkan. Tak cukup palu kecil untuk menghancurkan. 

Kau memberitahu dunia keresahan kita berdua. Kau seolah ingin mereka mengetahui lebih dahulu daripada aku, kekasihmu. Untukku itu sebuah petunjuk dan aku harus menerka-nerka. Entah sudah berapa banyak kafein yang aku teguk dalam malam-malamku. Entah sudah berapa centimeter diameter lingkaran hitam di mataku.

Sayang, aku bukan pemikir hebat yang mampu menyelesaikan "masalah terselubung" seperti ini. Petunjuk yang kau berikan tidak menyelesaikan apa-apa. Gunung es yang kau bangun akan semakin kuat. 
Bicaralah dan jelaskan semua petunjuk-petunjukmu.

Dengan resah,
Kekasihmu