12/09/2013

Berbeda

Cinta kita mubadzir dan menyebalkan. Bukan cerita cinta yang layak
untuk dijadikan sebuah buku ataupun film.

Aku letakkan kardus coklat di lantai diantara barang-barang yang berserakan. Aku duduk bersila, menghela nafas panjang, melihat sekelilingku dengan tatapan yang entah aku tidak bisa menjelaskannya. Sejujurnya, aku sedih dan miris, semuanya berakhir seperti ini tanpa aku rencanakan. Kau yang membuat cerita indah, kau yang menjadi aktor, dan aku menjadi aktris paling bahagia saat itu. Aku mengambil sebuah foto berbingkai kayu coklat muda dengan aksen bunga yang kaku, foto kita dengan background suasana malam kota Jogja. Foto ini aku kumpulkan dengan barang-barang kenangan kita. Mungkin aku bisa membuang semua barang ini, namun, tidak dengan kenangan kita. Aku berusaha untuk mengabaikan apa yang mereka pikirkan, pendirianku tetap mencintaimu. Semakin besar perasaan ini, semakin aku merasa tidak ada jalan. 

"Apa yang akan kita lakukan dengan semua ini?", suatu malam aku pernah bertanya padamu.
"Aku tidak mengerti maksudmu."

"Iya. Tentang aku, kamu, dan perbedaan yang ada. Kita seperti berada dalam dua sel tahanan yang berbeda, namun satu ruangan, hanya bisa bertemu, tetapi tidak bisa bersatu. Kau pernah menganalogikan seperti itu?" 
"Aku tidak pernah mengandaikan kita. Aku hanya ingin kita benar-benar nyata dan ada. Itu saja. Saat kau mengandaikan sesuatu, sama saja kau sedang tidur dengan mata terbuka. Percuma."
"Baiklah. Kau pernah berpikir bagaimana dengan kita? Aku tidak mau hanya menjalani tanpa berpikir."
"Aku tahu Tuhan kita satu, hanya bentuknya saja yang berbeda. Jadi, kita ini tetaplah satu, walaupun berbeda. Tuhan menyatukan umatnya dengan cara yang unik dan sulit dimengerti, salah satunya kita. Perbedaan itu indah jika kita melihat dengan sudut pandang yang berbeda juga." 

Aku selalu percaya pada setiap inci cinta yang aku berikan untukmu adalah sebuah doa. Tanpa henti aku mengamininya setiap hari. Pun cintaku bertambah setiap hari, doaku semakin mekar, Tuhan semakin sadar, cinta kita bersandar. Dia mendengar doaku dan mengabulkannya, cinta kita benar-benar bersandar, karena ia letih berjuang. Sekencang apapun ia berlari, sekeras hatinya berusaha, tak ada garis finish diujung mata. Doaku turut berhenti dan mulut ini tak pernah lagi mengamini.

Apa aku bisa menyalahkan Tuhan karena cinta yang Dia takdirkan tak bergaris finish? Atau aku menyalahkan cupid yang salah membidik panahnya? Lebih parahnya apa aku yang salah karena mencintaimu? Mungkin kau juga salah karena membalas perasaanku. Entahlah bisa-bisa aku menyalahkan seisi dunia. 

Ku rapikan semua barang kenangan kita di dalam kardus coklat dengan hati-hati, aku takut secuil kenangan akan berhamburan keluar. Baiklah, saat aku menutup kardus ini, saat itu pula aku memulai cerita baru untukku dan Tuhanku.

7/01/2013

Break The Rule

"Kau tidak bisa bertingkah seperti ini! Kau harus tetap tinggal di rumah dan keluarkan semua baju-bajumu dari koper!" Seoran ibu setengah baya berkata menahan amarah yang sedari tadi ia kontrol agar tidak berteriak. Malam ini suasana rumah terasa mencekam. Seorang anak perempuan berumur 23 tahun sibuk memasukkan baju-baju ke dalam sebuah travel bag

Perempuan itu sudah menangis sejak beberap menit yang lalu, "Apa?? Tinggal di rumah ini?? Rumah yang selalu mengubur mimpi orang-orang yang berada di dalamnya maksud ibu?? Begitu?? Aku punya mimpi yang harus aku selesaikan dan itu tidak akan terjadi jika aku tetap makan dan minum di rumah ini." Dadanya terasa sesak karena menahan beban yang sudah ia pendam berpuluh-puluh tahun. 

"Mimpimu sudah ibu tentukan dan kau tidak bisa menawar apapun! Lihat semua kakakmu sekarang sudah menjadi "orang" dan mereka tidak pernah bertindak bodoh sepertimu! Mereka bahagia dengan hidup mereka berkat ibu dan kau harus belajar dari kedua kakakmu.!" Ibu setengah berteriak dengan nafas yang tersengal-sengal karena emosi.

"Bahagia dengan pilihan ibu bukan pilihan mereka dan bahagia dengan menikahi laki-laki yang sama sekali tidak mereka cintai. Dan lagi-lagi ibu bisa menyebut mereka bahagia ketika Alexa datang kemari tengah malam dalam keadaan babak belur karena dihajar suaminya sendiri, suami pilihan ibu! Bagaimana dengan Sandra yang melihat dengan mata kepala sendiri suaminya yang lagi-lagi pilihan ibu sedang bercumbu dengan wanita lain?? Mereka juga terpaksa mengubur cita-cita mereka karena sudah jengah berdebat dan bertengkar dengan ibu." Perempuan itu berkata sembari berteriak, menangis, dan meraung-raung seperti kesetanan tanpa peduli malaikat mencatat sebagai dosa yang tiada ampun karena meneriaki ibunya sendiri. 
Biarlah, aku benar-benar letih dengan semua ini, batinnya. 

Diantara tangisannya ia melanjutkan, "Ibu tidak bisa membalas masa lalu kepada kami! Aku, Alexa, dan Sandra tahu semua ini karena dendam masa lalu ibu kepada nenek yang telah menikahkan ibu dengan ayah dan membiarkan mimpi ibu menjadi seorang psikolog berhamburan lalu berkahir menjadi ibu rumah tangga. Ibu melanjutkan kembali episode masa lalu itu kepada kami, anak-anak ibu yang punya banyak mimpi di kepala. Aku tidak akan membiarkan hidupku bernasib seperti Alex dan Sandra!" Nesya, nama perempuan itu, berjalan keluar kamar menarik kopernya. 

Matanya terhenti pada seorang laki-laki yang umurnya lebih dari setengah abad sedang duduk di kursi ruang keluarga. Ayahnya selalu diam saat anak-anak perempuan mereka bertengkar dengan ibu. Mata mereka bertemu sekian detik dan ayahnya mengangguk sambil menunjuk pintu rumah dengan dagunya. Nesya mengerti apa yang ada dalam pikiran ayah. Dia bergegas meninggalkan rumah dan dengan jelas Nesya mendengar ibunya berteriak lantang.

"Pintu rumah ini tidak akan terbuka untukmu sampai kapanpun, Nesya!" 

Aku akan membuka sendiri pintu rumah itu dengan kesuksesanku nanti, batinnya.

Malam itu Nesya benar-benar meninggalkan rumah dan berjuang sendiri. Dia letih menjadi korban masa lalu ibunya. Nesya merasa keluarganya kacau, walaupun ayah ibu masih bersama.

Banyak hal yang terjadi pada kedua kakaknya tanpa sepengetahuan ibu. Alex, kakak sulungnya, ternyata sudah setahun ini berada di Singapura meniti karir menjadi model profesional. Dulu Ibu memaksa Alex menjadi seorang pegawai bank pemerintah. Alex juga menjalin hubungan terlarang dengan seorang fotografer sebuah majalah gaya hidup. Pernikahan dengan suaminya, Joe, pria keturunan Indo-Belanda, merupakan kesalahan besar dalam hidupnya karena Joe tidak memberinya nafkah sama sekali. Joe juga hobi "main tangan". Mereka sepakat tidak bercerai dahulu untuk sementara waktu demi ibu.

Sandra, kakak nomer dua, lagi-lagi tanpa sepengetahuan ibu, sudah menetap di ibu kota dan sibuk bekerja dengan  production house menyiapkan sekuel sebuah film. Dia menjadi script writer dan semua film yang naskah nya dia tulis selalu laku dipasaran. Pernikahannya juga kacau dengan pria kaya pemilik beberapa resort mewah di Bali. Theo, entah sudah berapa kali Sandra melihatnya sedang menggoda tamu-tamu wanita. Lebih parah lagi suatu malam Sandra melihat Theo sedang memeluk mesra seorang wanita bule di bar hotel.

Nesya memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam. Sesak didadanya terasa semakin menusuk.  Bulir-bulir air mata deras membasahi pipinya. Dia berada di dalam taksi menuju bandara. Kepergiannya malam ini sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Nesya juga sengaja menunggu hingga kuliahnya selesai dan menjadi sarjana, jadi dia tidak punya tanggungan apapun di kota ini. Bukan hanya untuk lepas dari tekanan ibu ia pergi dari rumah, namun, ada satu hal penting yang harus ia selesaikan. Naskah novel yang dia kirim ke penerbit ternama di Jakarta beberapa bulan lalu ternyata di terima dan sekarang sudah masuk percetakan, bahkan, seminggu lagi akan launching.

Suara deru mesin pesawat yang sedang take off terdengar sangat bising, namun, tidak bagi Nesya. Suara itu mendadak merdu di telinganya seperti mendengar suara kebebasan. Dia menghirup dalam-dalam hawa dingin di pesawat dan menghembuskannya perlahan seakan menikmati jengkal demi jengkal oksigen. Nesya merapatkan jaketnya dan bersiap untuk tidur selama penerbangan, namun, sayup-sayup dia mendengar lagu yang sangat ia kenal, bahkan ia menjadikan lagu itu soundtrack hidupnya sendiri. Kepalanya menoleh ke penumpang laki-laki berambut cepak di sebelahnya yang terlelap dengan earphone di telinga.

"Sepertinya pencari kebebasan sepertiku," Nesya menggumam dan memejamkan matanya diiringi lagu itu.


You could go the distance
You could run the mile
You could walk straight through hell with a smile

(Hall of Fame-The Script)


6/25/2013

The Cold Latte: Cinta itu Seperti Latte

Aku terseok-seok. Kau bisa mendengar suara kakiku yang menyeret? Jari kakiku mulai berdarah. Tercium bau anyir. Kuku-kukuku sedikit demi sedikit mulai tergerus. Aku hanya bisa melihat, namun tak bisa ku rasakan. Mati rasa. Sedikit perih, tidak terlalu. Sakit, jika bisa. 

Kakiku semakin cepat menyeret. Lihat! Bukan hanya kukuku yang habis, kulit jari-jariku mengelupas. Seperti air terjun, cairan kental merah semakin deras dan berceceran dimana-dimana. Semakin cepat.....cepat.....cepat.....cepat.....cepat.....................dan..............kau yang menyeretku. Kau berhenti di ujung jalan setapak yang curam. Tubuhku tergeletak begitu saja. Nafasku hitungan satu-dua. Gaun putihku kotor oleh tanah dan darah, sebagian terkoyak dimana-mana. Rambutku terurai tak karuan, Aku tidak bisa jelas melihatmu. Badanmu membungkuk naik turun dan tanganmu mengayu-ayunkan sesuatu ke tanah. Kau seperti.................... sebentar! Menggali tanah? Untuk apa? Kau akan menguburku hidup-hidup? Tidak! Aku masih hidup. Nadiku masih berdenyut. Otakku masih berpikir. Jantungku masih berdetak. Darahku masih mengalir. Goncangkan saja tubuhku dan aku pasti bangun! 

"Cukup dalam....." Kau setengah bergumam dan meletakkan cangkul berkarat di tanah. Aku bisa menebak kau berjalan ke arahku dan menyeretku lagi. Kali ini langkahmu semakin cepat seperti anak kecil yang menerima balon gratis. Aku mencoba mencari penyesalan melalui genggaman erat tanganmu, namun, tidak ku temukan. Tanganmu dingin sedingin langkahmu.

Kau berhenti setengah meter dari tanah yang kau gali dan melepaskan genggaman kokohmu di tanganku. Aku beringsut setengah membungkuk mencoba bangun dan menahan tubuhku dengan kedua tangan. Belum sempat aku berkata, kau mencuri start......

"Kabur saja tidak apa-apa. Aku tidak akan mencegahmu. Lubang itu akan aku tutup kembali sebelum menjadi tempat tinggal para tikus." Kau berkata membelakangiku dan tetap dengan nada dingin.

"Kau pantas menguburku hidup-hidup! Balasanmu setimpal dengan perlakuanku dimasa lalu!" Aku setengah berteriak menaikkan suaraku beberapa oktaf.

"Mungkin aku telah menutup segala penjuru pintu maaf untukmu, tetapi, aku tidak mampu menutup pintu perasaanku padamu. Kau candu, seburuk apapun perlakuanmu bagiku. Sepertinya aku tidak bisa menyalahkanmu mengapa kau memilih laki-laki itu, sebut saja aku tidak mengisi kekuranganmu dan kelebihanmu sepenuhnya belum aku miliki. Ada kalanya aku harus melepaskan untuk belajar mempertahankan dan aku telah berhasil melepaskanmu, namun, tidak dengan mempertahankanmu."

Dia berkata panjang lebar seperti tidak memberiku kesempatan berbicara. Aku sepenuhnya bersalah dan tak perlu memberi pembenaran apapun. Ada jeda diantara kita berdua seperti ingin menyelami pikiran masing-masing. Aku memandang tanah yang ia gali. Tidak hanya aku yang ingin dia kubur, tetapi, kenangan kita berdua. Akal sehatmu tidak akan bekerja dengan baik saat kau mengingat momen buruk dalam hidup. Kepalamu akan terasa berat, tubuhmu dingin, dan aliran darahmu terasa berhenti sejenak. Seluruh tubuhmu secara otomatis akan memberi respon tidak mengenakkan. 

Angin menerpa wajahku dan menggelitik tengkuk. Dingin. Kau tetap bergeming di posisimu memandang jurang yang menganga lebar dibawah bukit tempat kita berdiri. Bukit dengan jalan setapak yang curam sekian derajat. Kau seperti telah mengenal tempat ini sebelumnya. Gesture tubuhmu memperlihatkan kenyamanan. 

"Harusnya kau tak perlu susah payah menggali tanah itu untuk menguburku. Jurang ini cukup dalam dan rasanya lebih setimpal. Kau mendorongku tanpa tedeng aling-aling lalu aku akan mati dalam sekejap. Persis seperti yang aku lakukan padamu, tepatnya hatimu. Tanpa tanda apapun aku meninggalkanmu dan menghancurkan seluruh dinding hatimu. Kedudukan kita akan satu sama." Aku berseloroh tanpa berpikir.

Kau tidak menjawab dan berjalan ke arah kuburanku. Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, namun, kau menimbun kembali lubang itu dengan tanah. Sesaat aku tersentak melihat bulir air matamu jatuh melebur bersama tanah. 

"Kau menangis? Untuk apa dan untuk siapa?"

Tetap tanpa memandangku kau menjawab, "Aku menangis untuk diriku sendiri. Aku gagal membahagiakanmu dengan caraku. Sekarang perasaanmu benar-benar tak tersisa. Maaf untuk kebiadabanku hari ini. Aku hanya melakukan yang sepantasnya aku berikan kepada orang yang telah meruntuhkan segala mimpiku. Aku tidak peduli kau akan mati hari ini atau menumbuk perasaan lebih untuk laki-laki itu. Sebenarnya aku berharap apa yang kau lakukan dan rasakan hanya terjadi di bawah alam sadarmu, sehingga kau tak pernah benar menyadari."

Aku berdiri tertatih menahan perih di kaki dan memandang jurang di bawah. Kau benar, apa yang aku rasakan dan lakukan sebenarnya berada di bawah alam sadarku, sehingga aku tidak menyadari perasaan ini masih hidup dan tumbuh untukmu. 

Dulu aku terbuai sesaat dengan laki-laki itu. Sampai suatu hari aku menyadari bahwa aku tidak menemukan tujuan dengannya. Tujuan hidupku adalah dirimu, hatimu, dan jiwamu. Selalu ada kata terlambat untuk mencintai, aku benar-benar terlambat merasakan cintamu yang hangat dan perlahan mendingin untukku.

17:00, di sudut coffeeshop........
"Hari ini juga aku harus menyerahkan naskah ini kepada editor." Wanita itu bergumam kepada dirinya sendiri hingga nyaris tak terdengar.

Sore ini dia terlihat sangat segar dengan celana high waist denim biru langit yang dipadukan dengan chiffon blouse berwarna peach, moodnya sedang bagus mengenakan knitted shawl beraksen bola-bola kecil berbulu dipinggirnya. Mata madunya memandang lurus layar notebook membaca ulang cerita fiksi sebelum ia serahkan kepada editor. Cerita itu tidak sepenuhnya fiksi, karena, tokoh yang ia tuliskan memang ada dalam hidupnya dan dia salah satunya. Jalan ceritanya pun pernah ia alami.

Ketika kau kehilangan orang yang kau cintai, maka, kau akan mengenal dua kata yaitu terlambat dan dingin. Hatimu terlambat menahannya untuk tetap tinggal, lalu perasaannya yang dulu hangat kepadamu perlahan akan mendingin. 

Wanita itu menyesap secangkir latte yang sudah dingin, lagi-lagi ia terlambat meminumnya. Ia meninggalkan selembar uang lima puluh ribu di meja dan segera membereskan notebooknya lalu  bergegas pergi meinggalkan coffeeshop. Membiarkan latte itu semakin dingin. 

6/20/2013

SURAT: Apa Mungkin Kau yang Mengingkari Isi Surat Itu?

Surabaya, 19 Maret 2012

Untukmu diantara barisan nadi-nadi itu,

Sudah berapa bulan (tahun mungkin?) kita tak bertemu? Sudah berapa lama kita saling tidak mengirim pesan pendek? Apa kau akan mencoba mencariku jika aku tak mencarimu terlebih dahulu? Ah sahabat..
Aku masih ingat 5 tahun lalu, malam sebelum kepindahanku ke kota ini, kau memberiku sebuah kado dan disitu terselip sebuah surat. Yang sangat aku ingat dari isi surat itu adalah "Jangan lupakan aku ya dan jangan sombong!". Aku tahu surat itu tulus dari hatimu. Sampai sekarang aku tak melupakanmu dan aku tidak sombong. Aku masih mencari tahu kabarmu, tanpa sepengetahuanmu. Apa mungkin kau yang mengingkari isi surat yang kau tulis sendiri?

Kedekatan kita tak seperti dulu lagi. Aku akui itu. Kau selalu bilang, "kamu pasti sibuk sekali". Sesibuk apapun aku, tak pernah terpikirkan dalam benakku untuk "menelantarkanmu", sahabat yang sudah bertahun-tahun hidup dalam aliran darahku. Namun, semuanya telah berubah, entah itu kau atau aku yang berubah. Kita bertemu seperti beberapa tahun lalu, tapi gesture tubuh kita seperti orang pertamakali kenal. Aneh. Tawa kita tidak lepas, ada kepalsuan yang tersembunyi. Percakapan yang seolah-olah "aku masih menganggapku ada" sangat menyakitkan. Aku mulai percaya bahwa segala sesuatu bisa berubah karena jarak dan waktu. Aku tidak bisa memperpendek jarak puluhan kilometer dan aku juga tidak bisa menghentikan waktu. Takdir Tuhan.

Semakin berubah 180 derajat saat kau tersandung. Mungkin lebih pantasnya adalah terperosok. Kau terperosok ke dalam lubang yang perlahan-lahan kau gali sendiri. Kau menutup rapat. Keluargamu berbohong sana sini. Saat itu aku merasa buta. Aku tidak tahu apa-apa dan aku hanya meraba. Mungkin tidak bisa aku tuliskan di sini karena sama saja aku membuka luka lamamu dan keluargamu. Aku pun tidak ingin mengingat kembali detail peristiwa itu.

Kita dipertemukan kembali tidak dalam dunia nyata, namun, melalui sebuah social media yang tak beremosi. Aku tidak bisa tahu saat kau sedang berbagi kalimat marah, mungkin saat itu juga kau sedang di kamar mandi. Bisa jadi pula, saat kau membagi kalimat sedih, namun menyambi tontonan serial komedi di televisi. Kita saling berbalas deretan kalimat yang terkesan hanya sebuah "label". Tidak ada lagi keseruan seperti dulu. Sepertinya perlahan-lahan semua akan benar-benar menghilang.

Sejak saat ini aku mulai meragukan makna "sahabat", namun, aku tidak memukul rata semuanya menjadi teman saja. Aku percaya pada indahnya persahabatan yang aku tidak percaya hanyalah sahabat untuk selamanya. Aku tidak pernah mendefinisikan sahabat dan cinta. Dua hal itu sama seperti saat seseorang bertanya, "Hantu itu apa?", tidak akan ada jawaban yang pasti.

Sahabat tidak seperti kekasih. Sahabat bukanlah jodoh. Kita tidak bisa menentukan siapa sahabat kita. Tidak pernah ada kata "putus" dalam persahabatan. Mungkin jika kau merasa tidak ada kecocokan dengan kekasihmu kau akan mengatakan cukup sampai disini dan masalah selesai. Kalian kembali dengan hidup kalian masing-masing. Itu tidak akan terjadi pada persahabatan. Apa kau pernah menemukan hal itu dalam persahabatan? Apakah kau pernah mendengar "mantan sahabat"? Sahabat mengalir alami, dia tidak membutuhkan pendekatan.

Aku juga sudah tidak banyak berharap pada persahabatan. Kau memberiku pelajaran bagaimana menjalani sebuah persahabatan yang saling membahagiakan.



5/09/2013

Tiga

Jangan menyalahkan cinta, ia tak pernah direncanakan dan tak pernah 
merusak dirinya sendiri. 

Baca! Baca tulisan ini, karena aku enggan mengatakannya. 
Kau binatang? Kau pahlawan bertopeng? Atau kau adalah kerak-kerak ciptaan Tuhan? Permainanmu sangat anggun. Pelan dan mematikan. Permulaan yang indah dengan senyuman terbaik dari bibirmu. Siapa yang tidak akan luluh? Medusa pun tidak akan menatap matamu agar kau tak membatu. Dahsyat, pria pintar! Kau membuat sebuah closed drama, tidak ada penonton dan panggung. Sebagai pemeran utama kau sangat lihai dan berpengalaman. Jadi, bukan sesuatu yang asing lagi bagimu? Ah, ini lebih dahsyat lagi pria lebih pintar!

Baca! Baca tulisan ini, karena aku enggan mengatakannya.
Kau wanita itu? Kau figuran atau tokoh jahat pendukung pemeran utama? Kau menggerus apa? Hasrat? Hati? Harta? Dengar, hidup ini akan sejalan dengan apa yang kau jalani, dia akan memutar haluan saat kau berputar. Dia akan menghantammu jika kau berbalik mengkhianati. Impas bukan? Tidak ada yang tidak berlaku untuk hukum karma, alam sudah menentukannya. Kau hanya menunggu bagianmu. Cantik.

Baca! Baca tulisan ini, karena aku enggan mengatakannya.
Hai, kau di sana wanita kurang beruntung? Lucu. Bodoh. Tangisi saja binatang itu dan kau pikir tangismu akan menyihir dia menjadi malaikat putih, suci, bersih. Awam berkata, jangan tangisi orang yang tak pantas kau tangisi. Aku berkata, mati saja. Iya, mati. Kau hidup dengan bergumul masa lalu yang perlahan-lahan menggerogoti akal sehatmu. Sedikit demi sedikit kau akan habis, kalah dengan kenangan. Memalukan.

4/14/2013

Maskara Jantan



Harusnya aku berada di sana dengan tumpukan gulungan kain dan berbagai pola. Mengenakan baju-baju lucu dan bersolek sesuka ria. Maskara hitam lentik, gincu merah marun, dan syal berbulu domba yang halus. Duduk manis di barisan penonton Milan Fashion Week sebagai tamu terhormat. Merancang gaun mahal untuk artis-artis ternama di dunia. Mungkin juga aku akan menjadi seorang psikolog hebat. Menjadi tempat konsultasi orang-orang dengan masalah rumit mereka. Namun, mimpi tinggallah mimpi. Fakta tetaplah tercetak jelas.

Namaku Prima Adrinata. Umurku 27 tahun. Aku terlahir di keluarga normal seperti keluarga-keluarga lainnya. Orang tuaku adalah hasil dari perjodohan nenek. Tak perlu heran jika kebahagiaan mereka berbeda. Aku anak ke empat dari lima bersaudara. Seluruh saudaraku telah menjadi “orang”. Dua kakak laki-lakiku adalah angkatan laut. Saat ini mereka berada di luar pulau bersama keluarga masing-masing. Aku tinggal di kota metropolitan ini dengan kedua orang tuaku.

Pendidikan terakhirku sarjana psikologi universitas ternama. Banyak orang berkata bahwa aku pintar dan tampan. Jangan heran jika aku mengirim CV ke perusahaan manapun, aku pasti lolos sempurna.

Dunia pergaulanku sempit, bahkan sangat sempit. Bahasa jaman sekarangnya kuper, kurang pergaulan. Kalian tidak akan pernah menemukanku di tempat-tempat hang out, seperti cafe atau coffeshop. Aku benci berada dikeramaian. Aku selalu berkata pada diriku bahwa aku tidak normal. Berbeda dari mereka. Kodratku yang hanya angin lalu semakin mengucilkanku.

Aku aneh. Iya, menurutku dan menurut semua orang, termasuk keluarga. Entahlah aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Kau berpikir aku seorang sarjana pengangguran yang sedang setengah  gila? Ada pula yang berpikir bahwa aku ini gila.

Semuanya berawal semenjak aku masih putih abu-abu. Dulu aku adalah alumnus sekolah menengah atas yang terkenal dengan kaum borjuisnya. Pelataran parkir sekolahku lebih mirip showroom mobil mewah. Mirisnya setiap hari aku hanya naik angkutan umum. Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Suatu malam aku pernah bertanya hal ini pada ayahku, jawaban beliau, “Sudahlah nak jangan pikirkan mereka. Gemerlap hidup mewah tak menjamin kebahagiaan hidupmu.” Kesederhanaan hidupku juga tak menjamin kebahagiaan. Ironis. Masa SMA adalah masa terberat dan menjadi beban pikiranku. Aku semakin tertutup dan pemalu. Sahabat atau teman curhat tak pernah ku punya. Diam-diam dalam hati aku membenci kaum-kaum yang tinggi itu. Aku harus tetap bertahan dengan “keangkuhan” hidup mereka. Ironis.

Keadaan semakin parah ketika aku mulai masuk perguruan tinggi. Aku merasa memiliki “aku” yang lain. Sisi lain diriku mulai muncul perlahan-lahan. Ada getaran aneh saat aku melihat sesama jenisku yang tampan. Ada perasaan “ingin mencoba” ketika alat-alat make up saudara perempuanku tergeletak acak-acakan di meja riasnya. Tanpa sepengetahuan keluarga diam-diam aku selalu menggambar design gaun perempuan. Semuanya aku sembunyikan dari lingkungan. Tak ada yang tahu satu orang pun.

Hingga suatu malam aku menguji nyaliku dan menceritakan semuanya pada ayah. Aku juga mengutarakan bahwa aku ingin menjadi designer gaun perempuan seperti mendiang Alexander McQueen. Dua puluh menit setelah aku bercerita, tangan tua ayah menampar keras pipiku. Suara beratnya berteriak keras di gelapnya malam,“KAU INGIN MEMPERMALUKAN KELUARGAMU? KAU ITU LAKI-LAKI! BERLAKULAH SESUAI KODRAT YANG TUHAN BERIKAN PADAMU!”

Sayup-sayup aku mendengar ibuku menangis. Mungkin beliau kecewa dan terpukul batinnya menerima kenyataan bahwa anak laki-lakinya bukanlah pejantan tangguh. Terhitung sejak malam ini hubunganku dan keluarga memburuk. Kondisi psikisku juga semakin kacau. Aku sering mengamuk dan terkadang memukuli ayah. Bertahun-tahun aku terkurung dalam jiwa yang “bukan aku”. Kebahagiaan kedua orang tuaku mulai terusik. Ibuku lebih sering menangis dan ayah hanya diam, namun, aku tahu dalam dirinya beliau ingin marah. Mereka juga berusaha menyembunyikan masalah ini kepada keluarga besar masing-masing. Saudara-saudaraku tahu akan hal ini, namun, mereka diam. Pura-pura tidak tahu mungkin lebih baik.

Keluarga kata orang-orang pintar adalah tempat paling pertama yang akan kau cari saat kau kehilangan arah. Nol besar untukku. Mereka menekanku. Secangkir teh hangat yang menemaniku setiap pagi, bukan teh hangat untuk manusia normal lainnya, namun ini khusus untukku. Obat penenang, bius, pemabuk atau apalah namanya selalu membuatku tenang, namun jiwaku berontak. Setiap hari aku hanya di rumah, berbaring di tempat tidur, atau membaca buku. Mimpiku telah berhamburan ke langit. Sebuah balon terbang yang telah terbang tinggi tidak akan pernah bisa kembali ke tanah lagi.

Pernah aku mencoba bekerja kantoran, tapi tak pernah bertahan lama. Satu-dua minggu pertama aku menjadi orang yang menyenangkan di tempatku bekerja. Menginjak dua bulan aku tidak betah berlama-lama berada di keramaian. Teman-teman sekantorku mulai menjauh satu persatu. Sedikit demi sedikit mereka menganggapku aneh. Aku sudah mendengar mereka menggunjingkanku. Devy, seorang sekretaris bos yang terkenal tukang gosip paling sering menjadikanku bahan gosipnya dengan perempuan-perempuan lain di kantor.

Gue pernah ngeliat si Prima lagi gambar gaun cewek, gambarnya sih bagus tapi kan ga cowok  banget. Dan elo tau di folder fotonya dia banyak foto cowok-cowok ganteng.  Mulai dari situ gue yakin kalo dia HO-MO!” Dengan gaya centilnya yang khas memilin-miling ujung rambut.  Aku tidak sengaja mendengar ketika berjalan menuju pantry dan para perempuan itu sedang berkumpul di kubikel Devy. Menjijikkan. Penekanan kata homo yang memang di sengaja saat aku lewat di depan mereka. Satu minggu kemudian aku resign dan kembali pada aktivitas lamaku.

Siang itu aku duduk-duduk di ayunan taman belakang rumah. Dua keluarga besar ayah ibuku sedang berkumpul di ruang tamu. Entah mereka sedang mengadakan pertemuan apa aku tak ingin tahu. Sepertinya mereka tahu apa yang terjadi, tetapi mereka memilih menganggap tidak terjadi apa-apa. Seluruh saudaraku juga datang, aku yakin mereka sepakat untuk pura-pura tidak peka.

“Prima, bengong aja nih? Gabung yuk di dalem, semuanya lagi pada ngumpul tapi kamu aja di sini. Bengongin apaan sih?” Helena, anak tanteku yang dulu semasa kecil sering bermain balap sepeda denganku. Sedetik aku hanya menoleh dan tersenyum. Malas. Aku malas menanggapi orang yang sok care. Helena menatapku tak berkedip, mungkin dia menunggu jawabanku.

“Di sini ternyata Prima. Ayahmu menunggu di dalam, sepertinya ada yang ingin beliau bicarakan.” Belum sempat aku menanggapi Helena, Tante Ria datang menyuruhku bergabung dengan para tamu. Ayah ingin membicarakan sesuatu denganku. Tentang apa? Entahlah.

Tiga tahun kemudian...

Saat kau membaca bagian ini, aku sedang berada di backstage Paris Fashion Week Spring 2013 Collections bersama 30 model dari berbagai negara. Tiga tahun belakangan aku sibuk dengan dunia designer dan butik yang sudah setahun berjalan. Kau bingung mengapa aku bisa seperti ini?
Saat pertemuan keluarga tiga tahun lalu ayah membahas masalahku di depan semua keluarga. Pada awalnya aku marah dan malu. Beberapa om dan tanteku terkejut karena setahu mereka aku normal-normal saja seperti kedua kakak laki-lakiku. Ayah menyetujui cita-citaku sebagai seorang designer, namun dengan satu syarat, aku tetap harus menikah dengan seorang perempuan. Aku terima keputusan ayah dan berjanji akan memenuhi syaratnya.

Aku tidak menyangka jika pada akhirnya ayah dan ibu akan berubah pikiran. Mereka orang tua terhebat untukku. Sisi gelap hidupku seperti terhapus oleh kebaikan dan keluluhan hati mereka.

Enam bulan kemudian aku terbang ke Paris untuk sekolah mode. Paris adalah negara impianku. Sudah tiga tahun aku menetap di Paris, setiap tiga bulan sekali atau saat jadwal kosong aku sempatkan pulang ke Indonesia menjenguk ayah dan ibu. Hidupku semakin bahagia dengan kehadiran Revina, istriku tercinta.

Ayah ibu, kebahagian anakmu bermula dari sehelai kain dan kebahagiaan kalian aku jahit rapi di helai-helai mimpiku yang berpola indah.

                

4/07/2013

SMA: Kau masih merasakan aroma masa orientasi tiga tahun lalu?

"Aku ingin menjadi dokter hewan."
"Kau bertanya cita-citaku? Mungkin orang yang bekerja di sebuah laboratorium."
"Cita-cita? Apa ya? Emang kalo udah lulus SMA harus cari cita-cita?"
"Tauk deh..ngikut orang tua aja."
"Kayaknya kerja kantoran seru."
"Ngikut negara ah jadi militer-militeran atau polisi-polisian gitu biar enteng jodoh!"
"Aku nerusin bisnis orang tua. Cita-cita kan?"
"Bentar. Cita-cita? Ngawinin anak pejabat atau pengusaha tajir aja biar kayanya cepet!"
"SOSIALITA!!!!!"

Pasti. Ragu. Tidak tahu. NgikutNgawur.

Kita lucu dan menggelikan. Disaat berada di ujung sebuah jalan dan kita harus mencari jembatan menuju jalan lainnya, kita bingung mencari jembatan kemana, seperti apa, dan kemana arahnya. Kita memilih, namun buta. Kita. Para pejuang pelepas warna putih abu-abu.

Kau masih merasakan aroma masa orientasi tiga tahun lalu? Kau masih ingat wajah para senior yang menghukummu hanya karena salah membawa "roti Rudy Hadisuwarno"? Kau masih ingat senyum simpulmu di depan kaca dan berkata, "Aku sekarang bukan anak kecil lagi!", saat hari pertama mengenakan seragam putih abu-abu? Buka lagi memorimu dan carilah kenangan itu.

SMA. Di sana kita menebar mimpi di semua sudut sekolah. Mencari teman untuk tiga tahun dan selamanya (jika kau bisa). Mencari ilmu untuk masa depan. Mencari cinta untuk menjadi alasan mengapa kau pergi sekolah. Meneruskan kenakalan masa SMP. Mencari guru yang akan mengenalmu dengan sebuah ciri khas.  Mencari sahabat untuk lebih dari selamanya. Kau akan merasakan keseruan dalam hidup saat masa ini. Berjalan membusungkan dada sambil menekankan pada diri sendiri bahwa kau sudah-dapat-dikatakan-dewasa.

Bangku hitam panjang menjadi saksi bisu saat pertamakali berhasil memegang punggung tangan pacar. Pagar sekolah mungkin akan merindukanmu untuk diloncati saat membolos. Ibu-ibu kantin tak kalah rindu padamu, iya, saat kau membayar dua gorengan padahal lima yang kau telan. Musuh bebuyutan kita, guru BK, akan mengenang kenakalan kita dengan buku "hitam" yang sudah usang.

Tiga tahun kita berjuang. Berjuang untuk mencetak mimpi. Berjuang untuk bertahan "di hutan rimba SMA". Hukum rimba berlaku di sana, dia yang kuat maka dialah yang menang dan bertahan. Semakin kau lemah, maka semakin buruk hari-harimu selama SMA.

Kau akan mengerti seperti apa teman dan sahabat yang sebenarnya pada masa SMA. Kau akan tau mana yang pantas kau jadikan kawan atau lawan. Kau akan tau rasanya melihat mantan pacarmu duduk berdua bersama temanmu sendiri di sudut kantin.

Jadi kau sudah siap "menggantung seragammu"? Menjadi seorang dewasa yang sesungguhnya? Menambah kata "maha" di depan "siswa"? Mengganti kartu pelajar dengan kartu tanda mahasiswa? Menutup album kenangan masa SMA? Tutup saja album itu, tapi, tak perlu kau kunci karena sepuluh tahun dari sekarang kau akan merindukan teman-temanmu.

Perjalanan sudah berakhir, di SMA. Kau akan berjalan sendiri. Menuai mimpi yang dulu kau tebarkan.